Di sudut Kelurahan Pilolodaa, Kota Gorontalo, Ibu Asna Ahengi (43 tahun) menjalani hidup yang jauh dari kata layak bersama putri semata wayangnya. Seorang janda yang hidup serba terbatas, Ibu Asna sempat berharap bisa memperbaiki nasib dengan pindah dari Batudaa ke Kota Gorontalo. Namun tanpa penghasilan tetap dan tempat tinggal, ia dan putrinya harus berpindah-pindah hingga akhirnya menetap di gubuk sempit yang merupakan kandang kucing, hidup berdampingan dengan hewan-hewan di dalamnya.

Meski tinggal di tempat yang tidak sehat dan memprihatinkan, semangat Ibu Asna tak pernah padam. Setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 12.00 siang, ia bekerja serabutan dari rumah ke rumah dengan penghasilan sekitar Rp50.000-Rp100.000 per hari, itu pun jika ada pekerjaan. Penghasilan tersebut hanya cukup untuk makan sederhana. Terkadang, kebutuhan makan harus dibantu oleh tetangga yang merasa prihatin. Dengan berjalan kaki dan kondisi kesehatan yang sering terganggu, Ibu Asna tetap berusaha bertahan demi anaknya.

Di tengah kerasnya hidup, harapan Ibu Asna tetap menyala. Ia bermimpi bisa tinggal di rumah yang layak dan melihat putrinya tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik. Ia ingin anaknya bersekolah dengan nyaman, mengenakan seragam rapi, dan memiliki perlengkapan sekolah yang layak seperti anak-anak lainnya. Dengan segala keterbatasan, Ibu Asna terus melangkah. Ia adalah potret keteguhan seorang ibu yang mungkin tak memiliki apa-apa, selain cinta dan tekad untuk memperjuangkan masa depan anaknya.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |