"Cuma saya yang bisa kerja sekarang. Suami jantungnya masih lemah, nggak bisa apa-apa. Kami butuh makan… butuh pengobatan juga." Ucapan Bu Iis dengan suara lelah yang ditahan. Di bawah panas jalanan, lampu merah menjadi saksi perjuangannya. Dengan nampan berisi gelas-gelas es teh, Bu Iis menghampiri sopir angkot dan pengendara yang berhenti, menawarkan dagangannya satu per satu dengan senyum yang tak pernah benar-benar hilang.

Sudah tujuh bulan terakhir, Bu Iis menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Suaminya divonis penyakit jantung kronis dan hanya bisa terbaring lemah di rumah. Sedikit bergerak, nafasnya langsung tersengal, dada sesak, badan gemetar, hingga hampir pingsan. Sejak saat itu, Bu Iis harus menggantikan peran suaminya sepenuhnya, bekerja, merawat, sekaligus berharap keajaiban datang di tengah keterbatasan.
Tak jarang, es teh yang dijualnya tak habis. Sementara di rumah, ada suami yang menunggu pengobatan yang biayanya belum juga terpenuhi. Di usia yang tak lagi muda, Bu Iis tetap berjalan dari satu jalan ke jalan lain, meski sering terjadi perih karena asam lambung. “Kalau kambuh, saya berhenti sebentar, lalu saya paksakan jualan lagi. Soalnya kalau saya berhenti, siapa yang membiayai bapak?” katanya lirih. Yuk kita bantu ringankan langkah Bu Iis. Donasimu hari ini bisa menjadi harapan agar suami terus berobat dan keluarga kecil ini tetap bertahan.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |