Selama 23 tahun, Sakban hidup dengan kondisi langka bernama sindrom Pfeiffer, kelainan genetik yang membuat bentuk wajah dan kepalanya berbeda dari kebanyakan orang. Tak hanya itu, ia juga harus menahan perih akibat eksim yang membuat kulitnya sering luka hingga infeksi. Rasa sakit itu sudah menjadi bagian dari hari-harinya, bahkan saat ia harus tetap berjalan mencari nafkah seorang diri.

Sejak kedua orang tuanya meninggal, Sakban tak punya siapa-siapa lagi. Setiap pagi ia berkeliling menjajakan sayur dengan harapan ada yang membeli. Namun kenyataannya tak mudah. Banyak orang menjauh, menatapnya dengan rasa tidak nyaman, bahkan enggan mendekat. Padahal, Sakban hanya ingin mencari rezeki yang halal. Dalam sehari, penghasilannya hanya sekitar Rp15.000, cukup untuk membeli beras tanpa lauk.
Di balik semua keterbatasan itu, Sakban menyimpan harapan sederhana. Ia ingin belajar, terutama ilmu agama, dan bermimpi menjadi seorang penghafal Al-Qur’an agar bisa membahagiakan orang tuanya meski mereka telah tiada. Orang Baik, hari ini kita bisa menjadi alasan Sakban tetap bertahan. Mari bantu ringankan langkahnya dan hadirkan harapan baru dalam hidupnya.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |