“Balon buk… balonnya pak…” Suara parau itu terdengar di pinggir jalan, dari sosok Pak Mubarok, seorang difabel yang setiap hari berjuang menjual balon dengan cara mengesot. Sejak lahir, ia hidup dengan keterbatasan fisik, namun tak pernah menyerah. Dengan kaki yang sudah tidak sempurna, ia tetap menempuh jarak hingga 10 kilometer demi mencari nafkah.

Perjalanan itu bukan tanpa rasa sakit. Kulit kakinya sering mengelupas karena bergesekan dengan jalan, bahkan harus melewati pecahan kaca, batu, hingga paku. Dalam sehari, Pak Mubarok hanya mampu menjual 5–7 balon dengan harga Rp2.000 per buah. Penghasilannya sekitar Rp14.000, itupun jika dagangannya laku. Tak jarang ia harus menahan lapar, makan hanya dengan nasi tanpa lauk, bahkan beristirahat di pinggir jalan hingga dianggap aneh oleh orang-orang sekitar.

Di balik semua itu, Pak Mubarok tetap teguh menjalani hidupnya. Ia tak pernah meninggalkan shalat, bahkan harus menumpang di rumah warga untuk sekadar menunaikan ibadah. Meski sering mendapat perlakuan tidak baik, ia tetap bersyukur atas hidup yang dijalaninya. Orang Baik, di tengah keterbatasannya, Pak Mubarok hanya ingin hidup lebih layak tanpa harus terus menahan sakit di jalanan. Mari kita bantu ringankan langkahnya dan hadirkan harapan baru untuk hidup yang lebih baik.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |