“Sapu lidinya berapa satu, Dik?” Pertanyaan itu hanya dijawab dengan bahasa isyarat oleh Hawari. Sejak tiga tahun terakhir, ia tak lagi bisa berbicara. Sebuah selang yang terpasang di tubuhnya menjadi satu-satunya jalan untuk makan dan minum. Air liur terus mengalir dari mulutnya, membuatnya harus membawa kain kecil ke mana pun ia pergi. Namun dengan kondisi seperti itu, Hawari tetap berkeliling menjajakan sapu lidi demi bertahan hidup.

Sejak ayahnya meninggal, hidup Hawari berubah drastis. Ia yang dulu bisa sekolah, mengaji, dan bermain seperti anak lain, kini harus putus sekolah dan membantu ibunya mencari nafkah. Sang ibu, Nurul Afdal, tak mampu bekerja jauh karena harus merawat Hawari. Pengobatan sudah berulang kali dilakukan, bahkan hingga ke rumah sakit di Banda Aceh, namun kondisi Hawari belum juga membaik. Keterbatasan biaya membuat pengobatan sering terhenti, sementara kebutuhan harian dan biaya perawatan terus berjalan.

Di balik perjuangannya, Hawari masih menyimpan harapan untuk sembuh dan kembali hidup normal. Namun hari-harinya tak mudah—menahan sakit, berjalan jauh berjualan, bahkan menghadapi ejekan dan perlakuan tidak baik dari orang sekitar. Orang Baik, hari ini kita bisa menjadi bagian dari harapan itu. Mari bantu Hawari melanjutkan pengobatan dan meringankan beban keluarganya. Sedikit bantuan dari kita, berarti besar untuk masa depan Hawari.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |